Rabu, 02 Desember 2015

Selamat Ulang Tahun


Kudapati undangan ulang tahun di meja kamarku sepulang kuliah. Aah ternyata teman semasa sekolahku dulu berulang tahun 2 hari lagi. Untung saja acaranya malam hari karena aku tidak ada kelas malam jadi tak perlu bingung untuk mencari alasan pada  dosen untuk tidak masuk. Sudah 3 tahun kita tidak bertemu dan tidak saling mengirim kabar sejak ponselku hilang di pusat kota waktu itu. Dan saat  ini aku  kuliah di luar kota  jauh dari SMAku. Kemudian aku sekeluarga pindah tempat tinggal di kota yang baru, tak  heran aku dan Case jadi saling kehilangan kontak. Aku sangat rindu sekali dengannya apa lagi saat kita bermain basket sepulang sekolah bersama teman-teman yang lain.
  Malam itu setelah dua hari lalu aku menerima undangan dari Case, aku pergi ke kota dimana Case memberikan alamat lengkap rumahnya, tentu ini akan sangat membantu. Karena jujur saja kami baru saling mengenal pada saat kelas 3 SMA saja dan aku belum pernah bermain ke rumahnya. Sesampainya di alamat tersebut,  kami seperti reuni SMA di rumahnya. Bercerita kekonyolan semasa sekolah dan  saling berbagi cerita saat kami usai lulus dari SMA. Kulihat Case menghampiriku dengan penampilannya yang begitu tampan. Kuberi ucapan selamat padanya dan aku diajak  berbaur dalam pesta yang begitu meriah itu. Sampai pada acara inti, dimana seperti pesta ulang tahun pada umumnya, kami semua berkumpul dan menyaksikan Case  mengucap make a wish serta meniup lilin dan memotong kuenya. Begitu meriahnya perayaan ulang tahun temanku yang ke 22 ini.
  Yup.. Tepat pada  tanggal  14 Juli, Case bertambah usia. Tunggu, 14 Juli ? Tepat satu tahun lalu  aku mengalami insiden yang begitu mengerikan dan aku menyadari sepenuhnya itu kesalahanku. Aku menabrak seseorang di jalan saat aku mengendarai mobil dengan kecepatan penuh, namun aku lari dari tanggung jawab. Tiba-tiba semuanya menjadi gelap, ah ada apa ini ? Perasaanku menjadi sangat cemas. Kemudian datang seseorang membawa kue ulang tahun dan lilin menyala diatasnya. Oh ya Tuhan semua persendianku terasa mati. Kulihat muka yang hancur dan kedua bola matanya yang menggantung sampai hidung dan sekujur tubuhnya berlumur darah. Kudengar dengan suara parau ia berkata “hey kau tak mau kita meniup lilin bersama di hari ulang tahunku dan hari kebangkitanku ini?” dalam remang sinar lilin, ia menyeringai kepadaku hingga rongga mulutnya menganga semua.

1 komentar:

  1. tak terduga, awalnya kusangka kisah romantisme belaka hingga semua berubah saat negara api menyerang. ckup bagus, dn terlalu ngeri buatku yang berhati lembut. Ngahaha..

    BalasHapus