Rabu, 02 Desember 2015

Jangan Pernah Memejamkan Mata







Pernahkah kau merasa seperti ada seseorang di dekat mu atau disekitar mu yang terlihat dari sudut pandangan mata mu ?  Tetapi setelah  kau beranikan diri untuk melirik ternyata  tak ada siapa pun. Hanya ada dirimu sendirii, yaa dirimu sendiri.. Atau pernahkan kau merasa was-was  saat  kau  sedang mandi terutama saat mengguyur air dikepala ketika keramas ? Pada saat itu mata kita terpejam, kebanyakan orang yang merasa was-was saat seperti itu  mereka  takut  apabila mereka terpejam ada hantu di depann mereka atau bahkan pas dihadapan mereka. Kita langsung cepat-cepat membuka mata dan  ternyata memang tidak ada apa-apa.  Tetapi  tetap saja  perasaan kita selalu cemas walaupun kita telah menyadari tidak ada siapa pun.
  Perlu kalian ketahui, cukup kalian ketahui tanpa harus aku memaksa kalian untuk percaya. Aku bukan bermaksud untuk menakut-nakutii, menurut mitos yang beredar memang  indera  penglihatan kita  terpejam, yaa mata kita terpejam. Tetapi  mata hati kita tetap melihat. Bisa jadi yang kau lihat saat  matamu terpejam memang benar sejenis makhluk tak kasat mata.  Maka berhati-hatilah, ingatlah Tuhanmu dan membaca do’a sebelum masuk kamar mandi.

Selamat Ulang Tahun


Kudapati undangan ulang tahun di meja kamarku sepulang kuliah. Aah ternyata teman semasa sekolahku dulu berulang tahun 2 hari lagi. Untung saja acaranya malam hari karena aku tidak ada kelas malam jadi tak perlu bingung untuk mencari alasan pada  dosen untuk tidak masuk. Sudah 3 tahun kita tidak bertemu dan tidak saling mengirim kabar sejak ponselku hilang di pusat kota waktu itu. Dan saat  ini aku  kuliah di luar kota  jauh dari SMAku. Kemudian aku sekeluarga pindah tempat tinggal di kota yang baru, tak  heran aku dan Case jadi saling kehilangan kontak. Aku sangat rindu sekali dengannya apa lagi saat kita bermain basket sepulang sekolah bersama teman-teman yang lain.
  Malam itu setelah dua hari lalu aku menerima undangan dari Case, aku pergi ke kota dimana Case memberikan alamat lengkap rumahnya, tentu ini akan sangat membantu. Karena jujur saja kami baru saling mengenal pada saat kelas 3 SMA saja dan aku belum pernah bermain ke rumahnya. Sesampainya di alamat tersebut,  kami seperti reuni SMA di rumahnya. Bercerita kekonyolan semasa sekolah dan  saling berbagi cerita saat kami usai lulus dari SMA. Kulihat Case menghampiriku dengan penampilannya yang begitu tampan. Kuberi ucapan selamat padanya dan aku diajak  berbaur dalam pesta yang begitu meriah itu. Sampai pada acara inti, dimana seperti pesta ulang tahun pada umumnya, kami semua berkumpul dan menyaksikan Case  mengucap make a wish serta meniup lilin dan memotong kuenya. Begitu meriahnya perayaan ulang tahun temanku yang ke 22 ini.
  Yup.. Tepat pada  tanggal  14 Juli, Case bertambah usia. Tunggu, 14 Juli ? Tepat satu tahun lalu  aku mengalami insiden yang begitu mengerikan dan aku menyadari sepenuhnya itu kesalahanku. Aku menabrak seseorang di jalan saat aku mengendarai mobil dengan kecepatan penuh, namun aku lari dari tanggung jawab. Tiba-tiba semuanya menjadi gelap, ah ada apa ini ? Perasaanku menjadi sangat cemas. Kemudian datang seseorang membawa kue ulang tahun dan lilin menyala diatasnya. Oh ya Tuhan semua persendianku terasa mati. Kulihat muka yang hancur dan kedua bola matanya yang menggantung sampai hidung dan sekujur tubuhnya berlumur darah. Kudengar dengan suara parau ia berkata “hey kau tak mau kita meniup lilin bersama di hari ulang tahunku dan hari kebangkitanku ini?” dalam remang sinar lilin, ia menyeringai kepadaku hingga rongga mulutnya menganga semua.

Senin, 30 November 2015

Tutup Jendelamu Rapat-Rapat


Malam itu aku tengah mengerjakan tugas yang sudah harus kupresentasikan besok pagi dihadapan dosen. Karena masih banyak bahan materi mentah berbentuk tulisan dan beberapa paragraf panjang yang belum kukerjakan, kuputuskan untuk pergi ke dapur sebentar membuat secangkir kopi, untuk menemani malamku waktu itu. Beberapa menit aku kembali kamar, ada sesuatu yang aneh terjadi. Pena yang kuletakkan di atas loose leafku tiba-tiba berada di lantai, perasaan aku tadi tidak menjatuhkannya atau mungkin saja tadi menggelinding  jatuh ke lantai. Kuanggap itu hal biasa. Namun sialnya ketika kuambil kembali pena itu dan kugunakan untuk menulis pena itu macet. Aah lalu aku mengambil pena lain yang ada di  laci mejaku. Ketika aku menegakkan pandanganku ke laptop, terdapat tulisan di screen monitor yang berbunyi “cepat buka jendela kamarmu. Aku ingin masuk” . Aku kaget  sampai jatuh terpental, aku langsung cepat-cepat menutup tirai  jendela kamarku dan segera tidur. Lampu kamar kuhidupkan tidak seperti biasanya aku selalu tidur dalam keadaan gelap. Malam terburuk itu terasa lama sekali, aku harus menggigil ketakutan diatas tempat tidur sampai berjam-jam. Aku tak mungkin berteriak minta tolong, aku di rumah sendiri orang tuaku sedang berada di luar kota, mulutku pun terasa  kaku serasa tak mampu berucap apa pun. Sampai keesokan harinya aku terbangun, aku merasa sedikit lega tetapi masih merasa takut. Aku menyibakkan tirai jendela membiarkan semua cahaya masuk menerangi kamarku dan mengubah suasana yang semalam sangat dingin menjadi agak lebih hangat. Aku mengambil segelas air putih sambil melihat jam di dinding, gawat 10 menit lagi masuk. Kuletakkan gelasku di atas meja dan Segera  mandii persiapan pergi ke kampus. Ternyata aku belum bisa bernafas lega, kubaca tulisan yang ada di secarik kertas di bawah gelasku tadi. “Mengapa semalam kau tak mau melihatku di bawah tempat tidurmu ?” sejak  kejadian itu, kejiwaanku menjadi terganggu.