Kudapati undangan ulang tahun di meja kamarku sepulang
kuliah. Aah ternyata teman semasa sekolahku dulu berulang tahun 2 hari lagi.
Untung saja acaranya malam hari karena aku tidak ada kelas malam jadi tak perlu
bingung untuk mencari alasan pada dosen untuk tidak masuk. Sudah 3 tahun kita tidak
bertemu dan tidak saling mengirim kabar sejak ponselku hilang di pusat kota
waktu itu. Dan saat ini aku kuliah di luar kota jauh dari SMAku. Kemudian aku sekeluarga
pindah tempat tinggal di kota yang baru, tak
heran aku dan Case jadi saling kehilangan kontak. Aku sangat rindu
sekali dengannya apa lagi saat kita bermain basket sepulang sekolah bersama
teman-teman yang lain.
Malam itu setelah
dua hari lalu aku menerima undangan dari Case, aku pergi ke kota dimana Case memberikan alamat lengkap
rumahnya, tentu ini akan sangat membantu. Karena jujur saja kami baru saling
mengenal pada saat kelas 3 SMA saja dan aku belum pernah bermain ke rumahnya.
Sesampainya di alamat tersebut, kami seperti reuni SMA
di rumahnya. Bercerita kekonyolan semasa sekolah dan saling berbagi cerita saat kami usai lulus
dari SMA. Kulihat Case menghampiriku dengan penampilannya yang begitu tampan.
Kuberi ucapan selamat padanya dan aku diajak
berbaur dalam pesta yang begitu meriah itu. Sampai pada acara inti, dimana seperti pesta ulang tahun pada
umumnya, kami semua berkumpul dan menyaksikan Case mengucap make a wish serta meniup lilin dan
memotong kuenya.
Begitu meriahnya perayaan ulang tahun temanku yang ke 22 ini.
Yup.. Tepat pada tanggal
14 Juli, Case bertambah usia. Tunggu, 14 Juli ? Tepat satu tahun
lalu aku mengalami insiden yang begitu
mengerikan dan aku menyadari sepenuhnya itu kesalahanku. Aku menabrak seseorang
di jalan saat aku mengendarai mobil dengan kecepatan penuh, namun aku lari dari
tanggung jawab. Tiba-tiba semuanya menjadi gelap, ah ada apa ini ? Perasaanku
menjadi sangat cemas. Kemudian datang seseorang membawa kue ulang tahun dan
lilin menyala diatasnya. Oh ya Tuhan semua persendianku terasa mati. Kulihat
muka yang hancur dan kedua bola matanya yang menggantung sampai hidung dan
sekujur tubuhnya berlumur darah. Kudengar dengan suara parau ia berkata “hey
kau tak mau kita meniup lilin bersama di hari ulang tahunku dan hari
kebangkitanku ini?” dalam remang sinar
lilin, ia menyeringai kepadaku hingga rongga mulutnya menganga semua.